Olympic.or.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) baru saja memberikan lampu hijau yang bikin jagat teknologi panas! Sekitar 10 perusahaan teknologi China resmi mengantongi izin untuk membeli chip AI Nvidia H200. Departemen Perdagangan AS, menurut laporan Reuters yang gue olah, sudah menyetujui lisensi ini dengan syarat yang super ketat. Jadi, jangan bayangin ini hadiah cuma-cuma, ya!
Nah, siapa aja nama-nama gede yang kebagian jatah ini? Coba catat: Alibaba, Tencent, ByteDance (induk TikTok yang lagi panas itu), dan JD.com langsung masuk daftar. Nggak cuma itu, distributor kayak Lenovo sama Foxconn juga kebagian izin buat jualan chip tersebut di dalam negeri China. Bayangin, setiap perusahaan disebut-sebut boleh beli sampai 75.000 chip H200 sesuai sama ketentuan lisensi AS. Gila, kan?
Tapi tunggu dulu, jangan langsung heboh. Nvidia H200 ini sebenernya BUKAN chip AI paling mutakhir di dunia. Masyarakat teknologi pasti tahu, chip ini adalah versi yang sengaja dipangkas kemampuannya biar masih bisa lolos dari aturan ekspor AS ke China. Jadi, kayak mobil balap yang mesinnya dibatasi kecepatannya gitu, deh. AS sebelumnya memang memperketat ekspor chip ini untuk melindungi posisi dominan dan keunggulan teknologi mereka. Nah, sekarang kontrol ekspornya mulai dilonggarkan, tapi dengan syarat yang bikin mikir keras.
Ada Pungutan 25 Persen Ala Trump di Balik Izin
Pemerintah AS menerbitkan peraturan baru pada Januari lalu yang mewajibkan perusahaan China membuktikan dengan mata kepala sendiri bahwa chip tersebut nggak bakal dipakai untuk kepentingan militer. Nggak cukup di situ, Nvidia juga diwajibkan memastikan stok chip tersedia di AS sebelum dikirim ke China. Itu belum seberapa! Pemerintahan Donald Trump (wow, balik lagi bayangannya) disebut-sebut bikin skema khusus di mana AS bakal menerima 25 persen pendapatan dari penjualan chip tersebut. Gila banget, kan, pungutan hampir seperempat hasil!
Karena hukum AS nggak mengizinkan pungutan ekspor langsung, chip H200 itu harus lebih dulu melewati wilayah AS sebelum dikirim ke China. Hasilnya, skema ini memicu kekhawatiran besar di Beijing. Banyak pihak di China khawatir soal potensi celah keamanan atau manipulasi pada perangkat keras yang dikirim. Jadi, meskipun secara teknis sudah “dilolosin”, pemerintah China malah balik was-was. Mereka merasa, kok, kayaknya ada udang di balik batu, ya?
Nah, ini plot twist-nya! Meskipun AS sudah memberi persetujuan, penjualan chip H200 ternyata BELUM benar-benar berjalan. Sumber Reuters bilang bahwa perusahaan-perusahaan China mulai menahan diri untuk membeli chip tersebut. Kenapa? Ternyata mereka mendapat arahan halus dari pemerintah Beijing. China khawatir kalau ketergantungan pada chip AI Nvidia malah melemahkan ambisi besar mereka untuk membangun industri chip domestik sendiri. Jadi, mereka pilih mundur selangkah biar bisa maju sepuluh langkah nanti.
Nvidia Kehilangan Pasar Raksasa, Tetap Pro AS Melarang Blackwell & Rubin
Kondisi ini langsung mengubah strategi. Saat ini, banyak perusahaan China mulai beralih memakai chip lokal buatan Huawei. Ini sekaligus memperlihatkan posisi Nvidia yang makin terdesak di China. Padahal, dulu Nvidia pernah jaya dengan menguasai sekitar 90 hingga 95 persen pasar chip AI kelas atas di Negeri Tirai Bambu. Tapi sekarang? Ceritanya beda total. Pendiri sekaligus CEO Nvidia, Jensen Huang, dengan jujur mengaku pangsa pasar Nvidia di China praktis turun menjadi nol akibat aturan kontrol ekspor AS. Sepi banget, kan?
Meskipun perusahaannya harus menelan pil pahit kehilangan pasar raksasa, Jensen Huang rupanya tetap satu suara dengan pemerintahannya sendiri. Dia secara terbuka menyatakan setuju bahwa China memang nggak seharusnya punya akses ke chip AI paling mutakhir. Dalam kesempatan yang sama, Huang menyebut secara spesifik nama arsitektur GPU AI generasi terbarunya, yaitu Blackwell dan Rubin. Dengan tegas, dia menyatakan China sama sekali nggak boleh mengakses dua jajaran chip super canggih tersebut. Tegas banget, ya!
Menurut Huang, dalam perlombaan kecerdasan buatan global saat ini, AS mutlak harus memegang kendali penuh. Argumen dia ditegaskan dengan pernyataan bahwa Amerika Serikat harus memiliki “yang pertama, yang terbanyak, dan yang terbaik” dalam hal kepemilikan perangkat keras AI. Jadi, meski kasihan sama perusahaannya sendiri, prioritas utama Huang tetap menjaga supremasi teknologi AS di level paling atas. Nggak ada kompromi untuk saingan.
Namun, meski mendukung penuh ambisi supremasi teknologi AS, bos Nvidia itu juga punya sisi pragmatis. Dia mendesak agar pemerintah AS tidak mematikan langkah perusahaan Amerika sepenuhnya di pasar global. Dia meminta agar para pemain semikonduktor dari AS tetap diberikan kelonggaran, termasuk tetap berbisnis di pasar China untuk menjual lini produk yang nggak melanggar aturan ekspor. Jadi, intinya: jangan sampai terlalu keras sampai perusahaan AS sendiri yang gulung tikar. Nah, informasi ini dihimpun dari laporan CNBC. Seru, kan, drama chip global ini?
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









