Olympic.or.id – Dalam drama teknologi yang mirip film mata-mata, seorang mantan insinyur Google harus menghadapi sidang pengadilan di Amerika Serikat. Faktanya, Linwei “Leon” Ding (38) terbukti dengan jelas telah mencuri dan membocorkan rahasia paling rahasia dari teknologi kecerdasan buatan (AI) milik Google ke perusahaan-perusahaan di China. Akibatnya, hukuman yang sangat berat sekarang menanti pria yang pernah bekerja di divisi perangkat lunak Google ini.
Berdasarkan berkas dakwaan yang lengkap, juri dengan tegas menyatakan Ding bersalah atas 14 dakwaan. Lebih detailnya, dakwaan itu terdiri dari tujuh dakwaan spionase ekonomi dan tujuh dakwaan pencurian rahasia dagang. Pengadilan membuktikan bahwa Ding dengan sengaja mengambil informasi super rahasia terkait chip Tensor Processing Unit (TPU) dan Graphics Processing Unit (GPU) Google. Selain itu, ia juga mencuri data tentang SmartNIC, sebuah komponen kunci dalam infrastruktur komputasi AI raksasa teknologi tersebut.
Jika hakim memutuskan hukuman maksimal, bayangkan, Ding bisa terpenjara hingga 175 tahun! Bagaimana bisa? Rinciannya, ia menghadapi 10 tahun untuk setiap dakwaan pencurian rahasia dagang (total 70 tahun) dan 15 tahun untuk setiap dakwaan spionase ekonomi (total 105 tahun). Namun demikian, vonis akhirnya masih akan ditentukan oleh hakim nanti. Hakim akan mempertimbangkan pedoman hukuman federal AS, termasuk apakah masa hukumannya dijalani secara bersamaan atau berurutan.
Modus Pencurian yang Cerdik Tapi Terbongkar
Menurut laporan mendalam dalam berkas dakwaan, Ding mulai bekerja di Google pada Mei 2019 dan memiliki akses ke sistem internal yang sangat sensitif. Akses istimewa ini mencakup pengembangan perangkat lunak untuk mengoptimalkan GPU bagi kebutuhan pembelajaran mesin di Google dan Google Cloud. Kemudian, pada Mei 2022, Ding mulai melakukan aksinya. Diam-diam, ia menyalin lebih dari 1.000 file rahasia.
Agar tidak ketahuan, ia menggunakan trik licik: ia memindahkan data dari repositori internal Google ke aplikasi Apple Notes di laptop kerjanya. Setelah itu, data tersebut ia konversi menjadi file PDF dan dengan berani mengunggahnya ke akun Google Cloud pribadinya. Meskipun Google terkenal dengan sistem keamanan berlapis—mulai dari pembatasan akses fisik, pemantauan jaringan, hingga pencatatan aktivitas digital—aksi awal Ding berhasil lolos dari deteksi.
Tak lama setelah itu, sebuah tawaran menggiurkan datang dari China. Pada Juni 2022, Ding menerima tawaran untuk menjadi Chief Technology Officer (CTO) di Beijing Rongshu Lianzhi Technology Co. Ltd., sebuah startup akselerasi pembelajaran mesin. Gajinya fantastis: 100.000 yuan (sekitar Rp 241 juta) per bulan, belum termasuk bonus dan saham perusahaan. Lalu, pada Mei 2023, Ding melangkah lebih jauh. Ia mendirikan Shanghai Zhisuan Technology Co. Ltd. dan menjabat sebagai CEO. Startup ini fokus mengembangkan sistem manajemen klaster untuk mempercepat beban kerja AI.
Yang mengejutkan, dokumen internal startup tersebut secara terbuka menyebutkan pengalaman membangun “platform komputasi puluhan ribu kartu ala Google”. Bahkan, dokumen yang sama juga memaparkan rencana memasarkan teknologi Zhisuan kepada entitas yang dikendalikan pemerintah China, seperti lembaga pemerintah dan institusi akademik.
Akhirnya Terbongkar karena Kecerobohan
Semua rahasia gelap Ding akhirnya terbongkar pada Desember 2023. Saat itu, ia melakukan kesalahan fatal: untuk kedua kalinya, ia mengunggah data rahasia Google ke akun Google Drive pribadinya. Padahal, sebelumnya ia sudah menandatangani pernyataan bahwa dirinya tidak menyimpan data Google sama sekali, tanpa mengungkapkan sejarah penggunaan akun pribadinya yang sudah terjadi.
Hanya berselang beberapa waktu, tim keamanan Google menemukan keanehan. Mereka mengetahui bahwa Ding tampil sebagai CEO Zhisuan dalam sebuah konferensi inkubator bisnis MiraclePlus. Secara cepat, Google membekukan akses jaringan Ding, mengunci perangkat kerjanya dari jarak jauh, dan melancarkan investigasi internal menyeluruh.
Rekaman pengawasan kemudian mengungkap kebohongan lainnya. Terekam jelas upaya Ding untuk memanipulasi data kehadiran, seolah-olah ia berada di AS, padahal kenyataannya ia sedang berada di China. Puncaknya, pada Januari 2024, pihak berwajib menyita perangkat Ding dan FBI melakukan penggeledahan. Dakwaan resmi akhirnya diajukan oleh dewan juri ke pengadilan pada Maret 2024.
Ancaman Hukuman dan Argumen Pembelaan
Di pengadilan, tim pembela Ding berargumen bahwa klien mereka tidak secara langsung menyerahkan rahasia dagang kepada pemerintah China. Namun sayangnya, hakim menilai bukti-bukti yang diajukan jaksa sudah sangat kuat dan cukup untuk membawa perkara ini ke persidangan. Jaksa dari U.S. Department of Justice dengan tegas menyatakan bahwa Ding bermaksud menguntungkan dua entitas yang dikendalikan pemerintah China melalui pengembangan superkomputer AI dan riset chip pembelajaran mesin khusus.
Pada akhirnya, juri memutuskan Ding bersalah atas seluruh dakwaan. Ia pun menghadapi ancaman hukuman maksimal yang sangat panjang: 10 tahun penjara per dakwaan pencurian rahasia dagang dan 15 tahun per dakwaan spionase ekonomi. Dokumen pengadilan memang tidak merinci apakah rahasia teknologi Google yang dicuri masih berada di tangan pihak terafiliasi pemerintah China. Sementara itu, Google sendiri juga belum memberikan keterangan lanjutan terkait status keamanan kekayaan intelektualnya, sebagaimana dirangkum dari TheRegister.
Bukan yang Pertama: Ingat Kasus Levandowski?
Kasus Linwei “Leon” Ding ini langsung mengingatkan kita pada skandal besar lain yang pernah menjerat mantan karyawan Google, Anthony Levandowski. Levandowski adalah mantan insinyur Google yang terlibat dalam pengembangan teknologi mobil swakemudi di unit Waymo. Pada 2020, ia dijatuhi hukuman 18 bulan penjara setelah mengaku bersalah mencuri sekitar 14.000 file rahasia dagang terkait kendaraan otonom.
Dokumen pengadilan menyebut Levandowski mengunduh data rahasia tersebut ke perangkat pribadinya, lalu memanfaatkannya untuk mendirikan startup pesaing. Kasus ini bahkan sempat memicu gugatan hukum besar-besaran antara Waymo dan Uber, sebelum berujung pada perkara pidana terhadap Levandowski secara personal. Meski kemudian ia mendapat pengampunan presiden AS pada 2021, kasus Levandowski selalu dijadikan preseden penting dalam penegakan hukum pencurian rahasia dagang di dunia teknologi.
Namun, para ahli menilai kasus Linwei Ding jauh lebih serius dan berbahaya. Alasannya, kasus ini tidak hanya sekadar kebocoran teknologi, tetapi juga melibatkan dugaan kuat pemanfaatan teknologi AI inti oleh perusahaan yang secara terbuka menargetkan kerja sama dengan entitas pemerintah China. Inilah yang membuat vonis 175 tahun penjara menjadi ancaman yang sangat nyata bagi Ding.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










