olympic.or.id — Eh, bayangin aja, lagi jalan-jalan di Jakarta, tiba-tiba liat muka Lyodra Ginting nongol di mana-mana. Dari lift kantor yang biasa-biasa aja, sampe dinding toko belanja, papan iklan gede, bahkan di badan bus kota yang lagi ngebut. “Kak Lyodra ada di mana-mana!” begitu kata fans yang pada mention atau DM dia di medsos. Lyodra sendiri ngaku, “Aku kayak bisa keliling Indonesia deh, soalnya mukaku ada di bus-bus, di Senayan, Pondok Indah, pokoknya everywhere!”
Ini bukan soal hantu atau apa, guys. Ini cerita asli dari acara diskusi media yang digelar dengan tema “Mendorong Inklusi Keuangan Digital Indonesia bareng SPayLater” di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, kemarin Kamis. Lyodra dateng sebagai public figure, dan dia cerita gimana kampanye ini bikin pesan inklusi keuangan digital nyebar kayak virus positif ke seluruh negeri. “Dorongan buat inklusi keuangan digital ini lagi masif banget dirasain masyarakat,” kata dia sambil senyum-senyum.
Jadi, apa sih inklusi keuangan digital itu? Simpelnya, ini soal bikin semua orang bisa akses layanan keuangan lewat gadget, tanpa ribet ke bank. Terutama buat yang di pelosok atau yang belum punya rekening bank formal. Lyodra bilang, penampilan barunya pakai gaun oranye itu jadi ikon kampanye yang bikin orang penasaran. “Banyak yang colek aku, kirim DM, ‘Kak, kamu lagi ngapain nih?'” ceritanya. Ini nunjukin betapa kuatnya komitmen dari perusahaan-perusahaan buat nyebarin edukasi keuangan ke masyarakat luas.

Di acara itu, ada juga Anggie Ariningsih, Direktur Kepatuhan & Manajemen Risiko SPayLater Indonesia. Dia jelasin kalau kampanye mereka nggak cuma soal teknologi doang, tapi juga empower orang-orang biar bisa ambil keputusan keuangan yang smart. “Inklusi keuangan itu bukan cuma akses tech, tapi bantu masyarakat capai ‘merdeka finansial’ lewat pengelolaan duit yang bijak,” kata Anggie. SPayLater sendiri nawarin cicilan nol persen sampe 24 bulan, plus insentif buat transaksi yang direncanain matang. Ini bantu banget buat yang pengen belanja tapi budgetnya pas-pasan.

Bayangin, dulu orang mungkin mikir dua kali buat beli barang impian karena takut kantong jebol. Sekarang, dengan sistem kayak gini, transaksi jadi lebih gampang dan merata. Anggie tambahin, layanan ini udah ngebantu perluas bisnis dan transaksi, yang pada akhirnya dukung pemerataan ekonomi digital di Indonesia. “Kami targetin masyarakat yang belum ke-cover bank formal, biar mereka bisa ikut main di era digital ini,” ujarnya.
Nggak cuma dari sisi konsumen, pelaku usaha juga ngerasain manfaatnya. Ambil contoh Jonathan Febrian, Chief Marketing Officer dari Zalmore, brand fesyen lokal yang udah jalan 10 tahun. Dia cerita, sejak ada SPayLater di ritel, marketplace online, dan toko offline, bisnis mereka makin melejit. “Pelanggan jadi lebih pede buat beli, nggak ragu lagi,” kata Jonathan.

kunjungi laman berita terbaru di Exposenews.id
Dia kasih contoh perilaku konsumen yang berubah drastis. Dulu, orang suka masukin barang ke keranjang belanja online, tapi nunggu gajian atau duit tambahan baru checkout. “Sekarang, dengan SPayLater, mereka lebih berani. Bisa punya barangnya dulu tanpa bayar full di depan. Jadi, buat yang pengen tampil stylish atau rapi dengan outfit baru, ini solusi banget,” tambahnya. Jonathan bilang, ini nggak cuma boost penjualan, tapi juga bikin pelanggan lebih terencana dalam belanja. “Mereka nggak impulsif, tapi mikir panjang soal cicilan yang affordable.”
Tapi, tentu aja, inklusi keuangan ini nggak lepas dari tantangan. Baru-baru ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) lagi susun aturan baru buat paylater, termasuk batas usia dan gaji minimal buat nasabah. Ini buat lindungin konsumen dari jebakan utang. OJK juga nerima sekitar 160 pengaduan terkait SPayLater sampe Juli 2024. Jadi, penting banget buat kita semua belajar kiat cegah gagal bayar tagihan paylater, seperti rencanain anggaran bulanan, hindari belanja impulsif, dan selalu cek kemampuan bayar.
Selain itu, ada tips menahan diri dari godaan utang: mulai dari bikin daftar prioritas belanja, pakai aturan 50/30/20 (50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan), sampe diskusi sama keluarga atau temen sebelum ambil cicilan. Inklusi keuangan digital ini emang keren, tapi kuncinya di tangan kita sendiri buat pakainya secara bertanggung jawab.
Cerita Lyodra ini jadi reminder buat kita semua. Di era di mana semuanya serba digital, akses keuangan nggak lagi privilege orang kota doang. Dengan kampanye masif kayak gini, harapannya Indonesia bisa lebih merata ekonominya. Lyodra aja sampe bilang mukanya bisa “berkeliling Indonesia” lewat iklan-iklan itu. Bayangin kalau pesan edukasinya juga nyebar sejauh itu? Pasti banyak yang terbantu.
Intinya, SPayLater dan kampanye serupa lagi push keras buat bikin masyarakat lebih melek keuangan. Dari artis kayak Lyodra sampe brand lokal seperti Zalmore, semua ikut merasakan dampak positif. Buat kamu yang lagi mikir-mikir soal paylater, ingat ya: gunain dengan bijak, biar nggak jadi boomerang. Siapa tahu, besok-besok muka kamu juga nongol di iklan karena sukses merdeka finansial!









