olympic.or.id — Hai, sobat olahragawan! Kalian yang suka lari pagi di Car Free Day (CFD) atau ikut event marathon, pasti pernah lihat fotografer pinggir jalan yang sibuk jepret-jepret. Seru sih, bisa dapat foto candid gratis. Tapi, tunggu dulu! Baru-baru ini, ada kontroversi besar soal foto-foto ini. Ternyata, kalau fotografer asal unggah atau jual foto tanpa izin, bisa kena gugat hukum. Wah, bikin penasaran kan? Yuk, kita kupas tuntas biar kalian nggak kaget kalau suatu hari foto kalian muncul di mana-mana tanpa sepengetahuan.
Semua ini bermula dari pernyataan tegas dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Mereka bilang, fotografer yang nyebar foto orang tanpa persetujuan bisa digugat karena langgar Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Ini disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital, Alexander Sabar. Katanya, wajah atau ciri khas seseorang itu termasuk data pribadi yang bisa identifikasi individu. Jadi, nggak boleh sembarangan diproses, mulai dari ambil foto, simpan, sampai sebarkan.

Bayangin aja, sobat. Kalian lagi lari santai di CFD Surabaya, cuaca panas terik, keringetan tapi semangat. Eh, tahu-tahu foto kalian muncul di platform jual foto online. Itu yang lagi ramai dibahas di media sosial, khususnya soal aplikasi FotoYu. Banyak warganet—termasuk pelari seperti kalian—ngerasa resah. “Meresahkan banget!” kata salah satu netizen di X (dulu Twitter). Mereka protes karena foto diambil di ruang publik, tapi kok langsung diunggah dan bahkan dijual tanpa bilang-bilang dulu.

Alexander Sabar jelasin lebih lanjut saat diwawancara. Menurut dia, setiap langkah pemrosesan data pribadi harus punya dasar hukum yang jelas. Yang paling aman? Dapat persetujuan eksplisit dari orang yang difoto. “Nggak cuma etika, ini soal hukum,” tegasnya. Kalau langgar, korban bisa gugat lewat UU PDP atau bahkan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Selain itu, ada juga aturan hak cipta yang melarang komersialisasi foto tanpa izin. Jadi, fotografer harus ekstra hati-hati, apalagi kalau foto itu dijual buat untung.
Latar belakang polemik ini sebenarnya sederhana tapi bikin geram banyak orang. Di lokasi-lokasi olahraga publik seperti CFD atau event lari, sering ada fotografer yang standby. Mereka potret ribuan orang yang lagi beraktivitas. Nah, foto-foto itu kemudian diupload ke platform seperti FotoYu. Aplikasi ini keren sih, pakai teknologi pengenalan wajah (face recognition) biar pengguna bisa cari foto diri sendiri dengan mudah. Ide bagus buat pelari yang pengen punya kenangan event, tapi masalahnya: banyak yang nggak tahu kalau foto mereka sudah online!
Warganet ramai-ramai curhat di X. “Hanya karena di tempat umum, bukan berarti boleh foto seenaknya, apalagi jual!” kata mereka. Mereka khawatir soal privasi. Di era digital ini, data pribadi kayak wajah bisa disalahgunakan. Misalnya, buat stalking atau bahkan penipuan. Apalagi FotoYu dikritik karena kumpulin terlalu banyak data pribadi pengguna. Gimana jaminan keamanannya? Itu yang bikin orang tambah was-was.
Komdigi nggak tinggal diam. Mereka rencana undang para fotografer, asosiasi seperti Asosiasi Fotografer Indonesia (APFI), dan penyedia platform digital buat diskusi. Tujuannya? Perkuat pemahaman soal hukum dan etika fotografi di dunia maya. Alexander bilang, ini bagian dari upaya pemerintah bangun ekosistem digital yang aman dan adil. Mereka juga bakal tingkatkan literasi digital, termasuk di kalangan kreator seperti fotografer dan pengguna AI generatif.
Buat kalian para atlet atau pecinta olahraga, ini pelajaran penting. Olahraga itu sehat dan fun, tapi di ruang publik, privasi tetap harus dijaga. Bayangin kalau foto kalian lagi lari marathon tiba-tiba dipakai iklan tanpa izin. Bisa-bisa malah jadi masalah hukum. Di Indonesia, event olahraga seperti Jakarta Marathon atau Borobudur Marathon sering ramai fotografer. Mereka bantu promosi event, tapi harus ada batasannya.
Sementara itu, pihak FotoYu sendiri belum kasih respons resmi soal keluhan ini. Tim kami coba hubungi, tapi sampai sekarang masih diam seribu bahasa. Mungkin lagi sibuk evaluasi internal? Yang jelas, ini jadi reminder buat semua platform serupa. Harus transparan soal data pengguna.
Di sisi lain, ini juga kesempatan buat komunitas olahraga kita. Mungkin bisa bikin pedoman etika buat fotografer di event lari. Misalnya, wajib minta izin sebelum unggah, atau kasih watermark buat klaim hak. Kalian bisa ikut diskusi di forum olahraga online, seperti grup Facebook pelari Indonesia atau thread di X. Siapa tahu, ini bisa dorong regulasi lebih baik dari pemerintah.
Intinya, sobat, jangan anggap remeh privasi di era digital. Foto yang kelihatannya sepele bisa jadi boomerang. Buat fotografer: selalu minta izin dulu, ya! Buat pelari: kalau lihat foto kalian online tanpa izin, jangan ragu lapor. Ini hak kalian. Tetap semangat olahraga, tapi stay safe di dunia maya. Kalau ada update soal ini, kami bakal kasih tahu di OLYMPIC.OR.ID. Share pengalaman kalian di komentar, yuk!
KUNJUNGI LAMAN BERITA EXPOSENEWS.ID









