Olympic.or.id – Coba ingat-ingat lagi, logo biru kecil bertuliskan “e” yang dulu selalu lo buka pertama kali pas nyalain komputer! Ya, Internet Explorer pernah menjadi raja tak terbantahkan di dunia maya, menjadi ikon sekaligus sahabat setia jutaan pengguna saat pertama kali merasakan “surfing” di era internet dial-up yang lelet dan laman web yang super sederhana. Kehadirannya bahkan terasa sangat dominan, bak satu-satunya pintu ajaib menuju hutan belantara informasi di awal tahun 2000-an.
Namun, zaman pun berubah dengan cepat. Teknologi berkembang pesat, standar keamanan menuntut lebih, dan munculnya browser-browser modern yang lebih cepat serta efisien secara perlahan namun pasti melengserkan sang legenda dari takhtanya. Akhirnya, Microsoft dengan berat hati memutuskan untuk mengakhiri perjalanan panjang si “e” biru ini dengan menghentikan dukungan dan memensiunkannya lebih cepat dari perkiraan banyak orang! Kini, Internet Explorer memang sudah menjadi kenangan, tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa jejaknya tetap melekat kuat sebagai salah satu pionir paling berpengaruh dalam sejarah peradaban web. Yuk, simak perjalanan rollercoaster Internet Explorer, dari puncak kejayaan hingga masa pensiunnya!
Dari Browser Gratis yang Jadi Penguasa 90% Dunia
Mari kita mundur ke masa kejayaannya! Internet Explorer (IE) sebenarnya adalah salah satu nama paling ikonik yang pernah menghiasi sejarah web. Pertama kali dirilis pada 1995 sebagai bagian paket Windows 95, IE muncul tepat saat akses internet mulai meledak dan jumlah pengguna komputer personal makin meroket. Kala itu, Microsoft dengan cerdik membeli lisensi teknologi dari browser Mosaic milik Spyglass, lalu mereka mentransformasikannya menjadi Internet Explorer yang akhirnya menjadi gerbang utama bagi jutaan orang untuk menyelami dunia maya. Memasuki akhir 1990-an, Internet Explorer dengan gagah berani menantang Netscape Navigator.
Strategi Microsoft yang mengintegrasikan IE langsung ke dalam sistem operasi Windows ternyata sukses besar, membuat browser ini menyebar bagai virus dan akhirnya menguasai pasar. Bahkan, menjelang periode 2001–2005, IE berhasil mencapai puncak kejayaannya dengan meraup pangsa pasar fantastis hingga 90 persen! Angka yang nyaris mustahil untuk ditandingi siapapun pada zamannya. Terutama, IE 6 yang hadir bersama Windows XP sering kita anggap sebagai puncak pencapaian terbesarnya. Browser legendaris ini membawa berbagai fitur canggih masa itu seperti kontrol konten, resize gambar otomatis, integrasi dengan Windows Messenger, dan menetapkan standar baru dalam berselancar. Pada era keemasannya itu, Internet Explorer bukan sekadar perangkat lunak, melainkan sebuah simbol dominasi mutlak Microsoft di dunia komputasi.
Kalah Telak Saat Zaman Berubah: Keamanan Bobol dan Lawan Tangguh
Sayangnya, masa keemasan itu tidak bertahan selamanya. Dunia internet terus berlari kencang, situs web menjadi semakin kompleks, dan tentu saja, standar keamanan harus ditingkatkan. Ironisnya, IE 6 justru mendapat banyak hujatan karena dianggap sangat rentan terhadap serangan malware dan exploit keamanan, sehingga memaksa banyak pengguna untuk berpaling mencari alternatif yang lebih aman. Di sisi lain, kemunculan Mozilla Firefox pada 2002 menjadi pukulan telak pertama untuk sang raja. Firefox yang membawa DNA Netscape tampil dengan wajah baru: lebih ringan, terbuka, dan gesit. Buktinya, hanya dalam waktu tiga tahun, Firefox sudah berhasil merebut 10 persen pasar! Namun, pemain yang benar-benar menghancurkan dominasi IE adalah Google Chrome.
Setelah diluncurkan pada 2008, Chrome langsung memukau dengan kecepatan loadingnya yang ngebut, antarmuka yang sederhana, dukungan penuh terhadap web modern, serta integrasi yang mulus dengan ekosistem Google. Belum cukup, era smartphone kemudian datang memberikan pukulan terakhir. Ketika Safari sudah terpasang otomatis di setiap iPhone dan Chrome berkuasa di Android, akses internet pun bergeser secara masif dari desktop ke genggaman tangan. Statistik tahun 2016 dari StatCounter dengan jelas mencatat bahwa untuk pertama kalinya, penggunaan internet mobile berhasil menyalip desktop. Pada momen yang sama, Chrome sudah menguasai lebih dari 60 persen pangsa pasar global. Bahkan, jika kita gabungkan penggunaan Internet Explorer dengan penerusnya, Microsoft Edge, angkanya masih kalah dari Firefox! Posisi IE benar-benar runtuh berantakan.
Microsoft sebenarnya sudah lama memberi kode bahwa IE akan segera pensiun. Tepatnya, sejak 17 Agustus 2021, browser tua ini resmi berhenti mendapat dukungan untuk Microsoft 365. Puncaknya, pada 15 Juni 2022, Microsoft secara resmi menghentikan seluruh dukungan dan mengakhiri perjalanan panjang IE di versi terakhirnya, Internet Explorer 11. Artinya, tidak akan ada lagi pembaruan fitur atau tambalan keamanan untuknya. Sebagai gantinya, Microsoft mengarahkan seluruh pengguna setianya untuk beralih ke Microsoft Edge yang sudah mereka luncurkan sejak 2015. Meski begitu, Microsoft masih menyediakan “IE mode” di dalam Edge untuk kebutuhan kompatibilitas dengan aplikasi atau situs web lawas, terutama di kalangan perusahaan. Namun secara resmi, sebagai browser untuk publik, IE telah ditutup dan dimuseumkan.
Kepergian Internet Explorer ini terasa cukup ironis ketika kita bandingkan dengan beberapa browser sezamannya yang justru masih bertahan hingga sekarang: Opera, yang rilis pertama pada tahun yang sama dengan IE, 1995, membuktikan bahwa usia tidak menghalangi inovasi. Walau pasarannya tak sebesar Chrome, Opera tetap punya basis pengguna loyal dan terus menghadirkan inovasi UI serta fitur built-in VPN yang khas.
Mozilla Firefox, yang berkembang dari reruntuhan Netscape, masih tegak berdiri sebagai alternatif utama selain Chrome dan Safari. Fokus kuat mereka pada privasi dan keterbukaan berhasil mempertahankan relevansinya di tengah persaingan ketat. Sementara itu, Safari besutan Apple tidak hanya bertahan, malah menjadi raja di ekosistemnya sendiri. Sebagai browser default di setiap iPhone dan Mac, Safari dengan leluasa menguasai pangsa pasar yang besar, menjadikannya browser terbesar kedua di dunia setelah Chrome.
Jadi, meski masa pensiunnya datang lebih cepat dibandingkan para veteran lainnya, kita harus akui bahwa Internet Explorer meninggalkan warisan yang sangat besar. Dialah yang membentuk pengalaman berselancar pertama bagi generasi awal pengguna internet, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan digital selama lebih dari dua dekade. IE juga turut membentuk standar antarmuka web yang kita gunakan sehari-hari, menginspirasi banyak fitur di browser modern, dan yang terpenting, membuka jalan bagi Microsoft Edge untuk bisa bersaing hari ini. Jadi, lain kali kamu membuka Edge, Chrome, atau Firefox, ingatlah sedikit tentang si “e” biru yang dulu telah membuka jalan bagi kita semua untuk mengenal dunia tanpa batas ini. Selamat jalan, Internet Explorer – jasamu akan selalu jadi kenangan!
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Indonesiaartnews.or.id









