Olympic.or.id – Meta, perusahaan raksasa di balik Facebook dan Instagram, akhirnya resmi meluncurkan senjata pamungkas mereka di dunia pemrograman: agen AI bernama Muse Code. Dengan langkah berani ini, Meta secara langsung menantang dominasi yang selama ini dipegang oleh Claude Code dari Anthropic dan Codex dari OpenAI. Alat canggih ini dirancang khusus untuk menjadi andalan para programer dalam menangani proyek-proyek kode yang super rumit dan berskala besar, yang biasanya bikin pusing tujuh keliling.

Peluncuran agen AI ini bukan sekadar pemanasan, karena Meta juga memperkenalkan model bahasa inti terbaru mereka, yakni Muse Spark 1.2. Model inilah yang bertindak sebagai “otak super” di balik kemampuan Muse Code dalam memproses dan memahami berbagai perintah bahasa mesin dengan kecepatan kilat. Jadi, ketika Muse Code bergerak cepat, itu semua berkat kekuatan otak dari Muse Spark 1.2 yang mendasarinya.
Dengan peluncuran resmi ini, Meta secara gamblang telah menancapkan bendera perang di ranah agen coding AI yang selama ini didominasi oleh para pemain lama. Persaingan di sektor ini kini dipastikan bakal makin seru dan panas.
Mark Zuckerberg Pamer Kemampuan Muse Code
Mark Zuckerberg, sang CEO Meta, tak mau ketinggalan. Ia langsung turun gunung mempromosikan kemampuan jagoan barunya itu lewat unggahan di media sosial pada Rabu (5/8/2026).
Dalam promosinya, Zuckerberg mengklaim bahwa Muse Code memiliki kemampuan super untuk menyelesaikan tugas-tugas rekayasa perangkat lunak secara utuh di seluruh repositori besar. Kemampuannya bukan cuma sekedar menulis kode, melainkan juga mampu merencanakan perubahan yang diperlukan, menulis kode secara presisi, dan memvalidasi hasil akhirnya tanpa banyak drama.
Namun, yang membuat Muse Code terasa begitu istimewa adalah kemampuannya dalam memecah tugas-tugas besar. Agen AI ini bisa dengan cerdas meluncurkan beberapa sub-agen yang bekerja secara paralel di ruang kerja masing-masing yang terisolasi. Ini seperti memiliki banyak asisten yang bekerja sendiri-sendiri namun tetap terkoordinasi dengan rapi.
Zuckerberg menjelaskan dengan antusias, “Ketika sebuah pekerjaan dirasa cukup besar, ia akan terpecah ke sub-agen terpisah yang langsung bekerja paralel di worktree terisolasi. Dalam pengujian kami, kami berhasil membuatnya membangun enam fitur untuk sebuah game secara bersamaan, dan hasilnya? Tidak ada satu pun bentrokan atau konflik kode yang terjadi.”
Yang lebih praktis lagi, Muse Code bisa dipasang cuma dengan satu baris perintah instalasi di terminal komputer. Simple dan efisien!
Fitur Andalan: Agen Latar Belakang yang Tak Pernah Tidur
Salah satu fitur teknis paling menarik dari Muse Code yang sayang untuk dilewatkan adalah async background agents. Berbeda dengan kebanyakan agen AI yang hanya aktif ketika ada tugas spesifik lalu berhenti total, agen Muse Code justru dirancang untuk selalu aktif dan bersiaga. Mereka dengan sendirinya menjalankan langkah selanjutnya secara otomatis tanpa perlu menunggu perintah, dan mereka punya wewenang untuk memutuskan sendiri kapan waktu yang tepat untuk melapor kembali ke agen utama.
Menurut Meta, sifat persisten atau selalu aktif ini secara signifikan mampu mengurangi latency dan meminimalisir kebutuhan campur tangan manusia, terutama untuk tugas-tugas panjang yang rumit dan membutuhkan proses bertahap. Ini benar-benar menghemat waktu dan tenaga para programmer.
Selain itu, Muse Code juga dibekali sistem log lokal yang mumpuni. Di sini, setiap panggilan model, penjalanan tools, persetujuan, dan perubahan kode akan tercatat secara berurutan dan rapi. Sistem ini membuat segalanya bisa dipulihkan tepat di titik terakhir jika terjadi kegagalan di tengah proses, tanpa perlu mengulang pekerjaan dari awal. Kehilangan progres karena error? Kini bukan lagi mimpi buruk!
Vibe Coding: Cukup Tunjukin Video, Kode Jadi!
Salah satu demonstrasi paling spektakuler dari Muse Code adalah kemampuannya melakukan apa yang disebut dengan vibe coding. Ini adalah metode pemrograman futuristik di mana pengguna cukup menjelaskan apa yang mereka inginkan lewat bahasa percakapan sehari-hari atau bahkan media visual, lalu AI yang akan menerjemahkannya menjadi kode sungguhan. Gak perlu pusing mikirin sintaks!
Dalam sebuah contoh yang dipamerkan Meta, pengguna hanya perlu memasukkan sebuah video rekaman kamera yang bergerak menjelajahi seluruh ruangan dalam format mp4. Secara ajaib, Muse Code kemudian menafsirkan isi video tersebut dan secara otomatis menghasilkan halaman pemasaran dan pemesanan rumah yang lengkap serta menarik secara visual.
Ini membuktikan bahwa Muse Code tidak cuma pintar menerima perintah berbasis teks, tapi juga paham konteks dari media visual dan langsung menerjemahkannya menjadi produk digital yang fungsional. Kombinasi kemampuan canggih ini menjadikan Muse Code bukan hanya alat bagi programmer berpengalaman, tapi juga sangat ramah bagi pengguna awam yang cuma perlu menjelaskan kebutuhan mereka lewat kata-kata atau bahkan video sederhana.
Bukti Kekuatan: Kalahkan GPT-5.6
Lantas, seberapa hebat performa Muse Code dibanding para pesaingnya? Berdasarkan klaim Meta, Muse Spark 1.2 berhasil mengungguli GPT-5.6 Terra milik OpenAI dalam benchmark rekayasa perangkat lunak Terminal-Bench 2.1. Bahkan, performanya disebut mendekati kecerdasan Claude Opus 5 dari Anthropic.
Sementara itu, dalam uji jangka panjang DeepSWE 1.1, Muse Spark 1.2 memang tertinggal dari kedua model teratas itu, namun tetap menunjukkan keunggulan dibanding Grok milik X.ai dan Gemini 3.6 Flash buatan Google. Dalam benchmark internal Meta sendiri, model terbaru mereka ini diklaim berada di posisi antara Claude Opus 5 dan GPT-5.6 Terra.
Murah dan Bersaing, Siap Mengguncang Pasar
Namun, daya tarik utama Muse Code menurut Meta bukan hanya terletak pada performa mentahnya, tetapi juga pada strategi harga yang super kompetitif. Alexandr Wang, kepala divisi AI Meta yang memimpin Meta Superintelligence Labs, menjelaskan jurus ampuh mereka dalam soal biaya.
“Kami berpikir bahwa untuk banyak alur kerja dan banyak kasus pemakaian, Muse Code bisa menjadi opsi yang sangat bagus, terutama jika dilihat dari sisi biaya,” ujar Wang, seperti dikutip dari WSJ.
Dengan harga standar bayar sesuai pemakaian, Muse Code dibanderol hanya 1,25 dollar AS per 1 juta token input, dan 4,25 dollar AS per 1 juta token output. Jika dikonversi, itu sekitar Rp 22.500 per 1 juta token input dan Rp 76.500 per 1 juta token output. Harga yang relatif terjangkau untuk kecanggihan yang ditawarkan, membuat persaingan di kancah agen AI coding diprediksi bakal semakin memanas dan berpihak pada pengguna.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










