Olympic.or.id – Kecerdasan buatan (AI) andalan Microsoft, Copilot, ketahuan nakal. Bukannya bantu kerja, dia malah nekat membaca email-email berlabel rahasia (confidential) tanpa izin. Kejadian ini bikin banyak perusahaan panik, apalagi setelah Microsoft angkat bicara dan mengonfirmasi bahwa bug ini benar-benar nyata.
Pernah bayangin nggak, asisten digital yang kita andalkan buat ngerjain tugas kantor tiba-tiba membuka dokumen rahasia sendiri? Nah, inilah yang baru saja terjadi pada Microsoft 365 Copilot. Raksasa teknologi ini akhirnya buka suara setelah laporan mengejutkan muncul ke permukaan. Mereka mengakui kalau sistem AI-nya mengalami gangguan serius yang memungkinkan Copilot mengakses email rahasia seenaknya.
Masalah ini pertama kali diendus oleh media teknologi Bleeping Computer. Dalam investigasinya, mereka menemukan fakta mencengangkan: Copilot ternyata berhasil menerobos kebijakan keamanan data atau data loss prevention (DLP) yang sudah dipasang oleh organisasi. Padahal, sistem DLP ini dirancang khusus sebagai tameng pelindung informasi sensitif perusahaan.
Lebih detail lagi, bug ini secara spesifik menyerang fitur Copilot Chat. Berdasarkan dokumen resmi yang dirilis Microsoft, celah keamanan ini menyebabkan email-email yang sudah diberi label rahasia “diproses secara keliru” oleh sistem. Artinya, dokumen yang seharusnya terkunci rapat malah ikut dibaca dan diolah oleh mesin.
Tim internal Microsoft langsung bergerak cepat melacak masalah ini. Mereka memberi kode khusus CW1226324 pada bug tersebut dan mencatat tanggal pertama kemunculannya, yaitu 21 Januari. Bleeping Computer kemudian melaporkan bahwa kerentanan ini paling parah terjadi pada fitur obrolan di “work tab”.
Copilot Buka-bukaan Folder Pribadi, Sent Items dan Drafts Jadi Korban
Dalam pengumuman resminya, Microsoft menjelaskan dengan gamblang bagaimana bug ini bekerja. Copilot Chat ternyata secara tidak sengaja menarik dan merangkum email dari dua folder penting: Sent Items dan Drafts milik pengguna. Padahal, folder-folder ini biasanya menyimpan draf dan pesan terkirim yang sifatnya internal.
Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini terjadi meskipun email-email tersebut sudah diberi label sensitivitas tinggi. Label ini seharusnya menjadi perintah tegas bagi sistem untuk tidak mengakses konten secara otomatis. Namun, Copilot seolah tuli dan tetap memprosesnya.
Dengan kata lain, bayangkan betapa kacaunya situasi ini: surat elektronik dan informasi sensitif yang seharusnya dijaga ketat sebagai rahasia perusahaan, justru ikut mengalir dalam sistem pemrosesan AI. Dokumen strategis, data klien, atau rencana bisnis rahasia bisa saja terbaca oleh mesin tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Kenapa AI di Tempat Kerja Bisa Berbahaya?
Sebagai konteks tambahan, kita perlu tahu bahwa Microsoft sebenarnya baru gencar memasarkan Copilot Chat ke aplikasi-aplikasi andalannya seperti Word, Excel, Outlook, dan PowerPoint sejak akhir tahun lalu. Fitur ini menyasar pelanggan Enterprise atau perusahaan besar.
Pihak Microsoft sendiri memposisikan Copilot Chat sebagai asisten super cerdas. Kemampuan utamanya adalah memahami konteks konten, mulai dari dokumen panjang hingga komunikasi internal perusahaan sehari-hari. Kerennya, AI ini bisa merangkum email, membuat draft balasan, hingga mencari data spesifik dalam tumpukan file.
Namun, kecanggihan Copilot Chat ini justru menjadi pedang bermata dua. Kemampuannya yang “terlalu pintar” membuat aspek pengamanan data menjadi sangat krusial. Apalagi ketika sistem AI sudah berinteraksi langsung dengan email dan dokumen internal perusahaan, risiko kebocoran informasi meningkat drastis.
Perusahaan-perusahaan yang mulai mengadopsi asisten AI di lingkungan kerja kini harus berpikir ulang. Ancaman seperti prompt injection—di mana peretas bisa memberikan perintah tersembunyi ke AI—hingga pelanggaran kepatuhan data menjadi momok menakutkan. Satu kesalahan kode bisa membuka pintu bagi bencana privasi.
Menanggapi heboh ini, Microsoft langsung angkat bicara kepada Bleeping Computer. Mereka menegaskan bahwa insiden ini murni disebabkan oleh kesalahan kode atau coding error. Bukan karena serangan hacker atau kebocoran sistem yang disengaja.
Perusahaan pun bergerak cepat. Mereka mengklaim sudah mulai meluncurkan perbaikan alias patch sejak awal Februari lalu. Tim teknis bekerja lembur untuk menambal lubang keamanan yang membuat Copilot bisa membaca email rahasia tersebut.
Selain merilis perbaikan teknis, Microsoft juga berkomitmen untuk terus memantau penerapan patch ini. Mereka aktif menghubungi sebagian pengguna yang terdampak, memastikan bahwa masalah benar-benar terselesaikan. Informasi ini dihimpun langsung dari Mashable pada Jumat lalu.
Satu hal yang pasti, insiden ini menjadi alarm keras bagi semua perusahaan yang mulai mengandalkan AI di sektor sensitif. Teknologi secanggih apapun tetap bisa melakukan kesalahan fatal. Dan ketika AI yang salah baca dokumen, yang taruhannya bukan hanya data, tapi kepercayaan dan reputasi perusahaan.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










