Olympic.or.id – Pernah bayangin nggak sih, kalau suatu saat nanti pekerjaan lo bisa digantikan sama mesin? Nah, ini bukan skenario film fiksi ilmiah lagi. Raksasa teknologi Amerika Serikat (AS), Oracle, baru saja mengumumkan kabar mengejutkan yang bikin geleng-geleng kepala. Mereka bakal memecat (PHK) ribuan karyawan di berbagai divisi. Bukan cuma itu, mereka juga menunda perekrutan karyawan baru (hiring freeze), khususnya di divisi cloud. Kok bisa?

Laporan terbaru dari media teknologi dan bisnis terkemuka, Bloomberg, mengungkap fakta mencengangkan di balik keputusan ini. Ternyata, Oracle merasa teknologi kecerdasan buatan (AI) sudah jago banget dan sanggup menggantikan tugas-tugas yang selama ini dikerjakan manusia. Jadi, buat apa repot-repot bayar gaji karyawan banyak-banyak, gitu loh kira-kira pikirannya.
Langkah berani ini juga mereka ambil karena ingin menekan biaya operasional. Apalagi, pengeluaran mereka untuk investasi dan pengembangan AI saat ini sedang gila-gilaan besarnya. Coba bayangkan, pada kuartal terakhir saja, arus kas bebas (free cash flow) Oracle jeblok hingga minus 24,7 miliar dollar AS! Angka yang bikin siapa pun pasti bergidik ngeri. Bahkan, para analis memprediksi kondisi arus kas negatif ini bisa berlanjut hingga tahun 2030. Duh, gawat darurat finansial!
Nah, kembali ke isu PHK dan hiring freeze. Sumber yang sama bilang kalau dua kebijakan ini bakal diterapkan Oracle dalam waktu dekat. Memang belum ada kepastian 100 persen apakah rencana yang bakal mengguncang nasib ribuan karyawan dan calon karyawan ini akan benar-benar terjadi.
Tapi, tanda-tandanya sudah sangat jelas. Dalam pernyataan resmi terbaru mereka soal laporan keuangan kuartal ketiga (Q3, Desember-Februari) tahun fiskal 2026 (FY26), Oracle terang-terangan mengakui kalau mereka memang lagi rajin-rajinnya mengurangi jumlah karyawan karena ulah AI.
Mereka bilang, “Model AI untuk menghasilkan kode komputer sekarang sudah sangat efisien. Karena itu, kami sedang merestrukturisasi tim pengembangan produk menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil, lincah, dan lebih produktif.” Terus terang banget, kan?
Oracle nambahin lagi, “Teknologi baru AI Code Generation ini memungkinkan kami membangun lebih banyak perangkat lunak dalam waktu yang singkat dengan jumlah karyawan yang lebih sedikit.” Wah, kalau udah begini, para programmer pasti mulai deg-degan. Masanya para pembuat kode bakal ‘dikode’ sama buatan mereka sendiri?
Di Balik Kabar Buruk, Ternyata Cuan Oracle Malah Melejit
Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru bersedih. Meskipun berita PHK dan hiring freeze ini bikin miris, di sisi lain kinerja bisnis Oracle justru menunjukkan pertumbuhan yang bikin saingannya iri. Ibarat kata, mereka lagi galau urusan karyawan, tapi pundi-pundi uang terus mengalir deras.
Dalam laporan kinerja Q3 FY26 yang mereka rilis pada Selasa (10/3/2026) waktu setempat AS, Oracle berhasil mencatatkan pendapatan yang jauh melampaui ekspektasi para analis. Gimana nggak, secara total, pendapatan kuartalan mereka mencapai 17,2 miliar dollar AS. Angka ini melesat naik sekitar 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Keren, kan?
Bahkan, bisnis cloud mereka tumbuh dengan kecepatan yang sulit dibayangkan. Total pendapatan dari layanan cloud, yang mencakup infrastructure-as-a-service (IaaS) dan software-as-a-service (SaaS), berhasil meraup 8,9 miliar dollar AS. Ini artinya, ada lonjakan sekitar 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya!
Salah satu primadona yang mencatat pertumbuhan tertinggi adalah layanan cloud infrastructure (IaaS). Pendapatannya mencapai 4,9 miliar dollar AS, atau melonjak fantastis sekitar 84 persen secara tahunan. Ini bukti kalau mesin uang Oracle masih bekerja sangat efisien.
Investasi Gila-gilaan Demi Memenangkan Perang AI
Nah, di tengah euforia pertumbuhan bisnis cloud ini, Oracle justru makin menjadi-jadi dalam berinvestasi. Mereka menggeber habis-habisan pembangunan infrastruktur AI, terutama pusat data atau data center raksasa. Target mereka sungguh ambisius, yaitu membelanjakan modal (capital expenditure) sekitar 50 miliar dollar AS pada tahun fiskal 2026. Jumlah ini hampir dua kali lipat dari belanja mereka tahun sebelumnya!
Lalu, kenapa mereka berani jor-joran banget? Jawabannya sederhana: permintaan komputasi cloud untuk keperluan AI lagi membludak. Mulai dari kebutuhan untuk melatih (training) model AI sampai dengan penggunaannya sehari-hari (inferencing), semuanya butuh daya komputasi raksasa yang hanya bisa dipenuhi oleh data center canggih.
Oracle sendiri mengakui, saat ini permintaan kapasitas cloud untuk AI tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan ketersediaan infrastrukturnya. Jadi, investasi besar-besaran ini adalah strategi perang mereka agar tidak kehabisan amunisi di tengah gempuran kompetitor. Mereka rela berutang dan berkorban di sisi arus kas demi memastikan bisa memenangkan pertarungan bisnis AI di masa depan. Jadi, meskipun sekarang arus kas mereka jebol, mereka yakin ini adalah investasi jangka panjang yang bakal berbuah manis kelak. Skenario besar sedang dimainkan, dan karyawan jadi pion yang harus rela diganti demi mesin yang lebih canggih.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









