Olympic.or.id – Pabrikan laptop kenamaan asal Taiwan, Asus dan Acer, kini harus angkat kaki dari pasar Jerman. Bayangkan, dua raksasa teknologi ini mendadak dilarang berjualan di negara Eropa tersebut. Mengapa ini bisa terjadi? Ternyata, keputusan kontroversial ini bermula dari meja hijau Pengadilan Regional Munich I yang memvonis kedua perusahaan melakukan pelanggaran paten.

Lebih detailnya, pengadilan memutuskan bahwa Acer dan Asus secara tidak sengaja telah menginjak-injak hak paten milik raksasa telekomunikasi asal Finlandia, Nokia. Paten yang dipermasalahkan ini berkaitan erat dengan teknologi canggih di balik codec video H.265 atau yang lebih dikenal dengan HEVC.
Kita semua tentu menikmati video jernih di laptop, bukan? Nah, codec HEVC inilah yang menjadi tulang punggung kompresi video resolusi tinggi seperti 4K dan 8K. Tanpa teknologi ini, file video akan membengkak dan sulit untuk diputar mulus. Teknologi ini bahkan sudah menyatu erat dengan prosesor dan sistem grafis modern yang dipasang di hampir semua laptop dan desktop masa kini. Jadi, bisa dibilang ini adalah jantung dari perangkat multimedia modern.
Sebenarnya, kisruh hukum ini bukan barang baru. Nokia pertama kali melayangkan gugatan pada tahun 2025, tidak hanya kepada Acer dan Asus, tetapi juga menyertakan Hisense. Namun, jalan cerita berubah ketika Hisense memilih untuk berdamai. Mereka segera melakukan perjanjian lisensi dengan Nokia, dan sebagai hasilnya, tuntutan terhadap perusahaan asal China tersebut resmi dicabut. Mereka memilih jalan aman dengan membayar lisensi.
Lalu, bagaimana dengan Asus dan Acer? Keduanya terlihat enggan menempuh jalur serupa. Hingga saat ini, mereka belum juga menunjukkan itikad untuk mendapatkan lisensi resmi dari Nokia. Sikap inilah yang membuat pengadilan Jerman akhirnya angkat bicara. Majelis hakim menegaskan bahwa Asus dan Acer melanggar paten karena mereka dengan nyaman menggunakan dukungan HEVC di perangkat mereka, tetapi tanpa membayar sepeser pun melalui skema lisensi yang adil. Skema yang dimaksud adalah FRAND, singkatan dari fair, reasonable, and non-discriminatory, yang menjamin pemilik paten memberikan lisensi dengan syarat yang wajar.
Akibatnya, otoritas hukum Jerman langsung bergerak cepat. Mereka mengabulkan permintahan Nokia untuk menerbitkan perintah blokir sementara. Ini adalah tamparan keras bagi kedua vendor Taiwan tersebut. Mereka tidak punya pilihan selain menghentikan segala aktivitas penjualan yang melibatkan produk bermasalah di Jerman.
Rak Toko Online Langsung Dikosongkan
Keputusan ini jelas bukan main-main. Implikasinya, Asus dan Acer tidak diperbolehkan mengimpor, menjual, atau mendistribusikan satu pun perangkat yang diduga melanggar paten di wilayah Jerman. Mengingat dukungan HEVC sudah terintegrasi secara luas di berbagai komponen perangkat keras dan lunak modern, maka potensi produk yang terkena imbas sangatlah besar. Bisa dibilang, hampir semua jajaran laptop dan desktop terbaru keluaran Acer dan Asus masuk dalam daftar hitam ini.
Merespons situasi darurat ini, Asus langsung mengambil tindakan drastis. Mereka membatasi akses ke sebagian situs web mereka di Jerman. Saat konsumen Jerman mencoba membuka beberapa halaman produk, yang muncul hanya tulisan “tidak tersedia” atau halaman tersebut malah mati total. Ini seperti toko yang tiba-tiba menutup paksa tokonya di tengah hiruk-pikuk pasar.
Acer pun tak kalah sigap. Mereka secara sepihak menghapus seluruh katalog PC dari toko online resmi mereka di Jerman. Jika penggemar Acer di Jerman membuka situs tersebut, mereka hanya akan disambut oleh deretan perangkat periferal seperti monitor. Laptop dan desktop lenyap dalam sekejap. Namun, ada secercah kabar baik di tengah kabut pekat ini. Kedua perusahaan memastikan bahwa layanan purna jual seperti garansi, perbaikan, dan dukungan pelanggan di Jerman tetap beroperasi normal. Konsumen yang sudah membeli produk tidak perlu panik karena perangkat mereka tetap bisa diperbaiki.
Ritel Pihak Ketiga Masih Bisa Jualan
Namun, ada satu fakta menarik yang patut dicermati. Perintah pengadilan ini hanya menyasar langsung ke tubuh Asus dan Acer sebagai korporasi. Artinya, perintah ini tidak berdampak pada ritel pihak ketiga seperti Amazon, MediaMarkt, dan pengecer lokal lainnya. Para raksasa ritel ini masih diizinkan untuk menjual stok laptop atau desktop Asus dan Acer yang sudah mereka miliki.
Jadi, bagi konsumen Jerman yang masih ngotot ingin membeli laptop Asus atau Acer, mereka masih bisa berburu di toko-toko tersebut hingga stok benar-benar terkuras. Ini adalah kesempatan terakhir sebelum produk benar-benar lenyap dari pasaran. Sayangnya, begitu stok ritel habis, situasi akan berubah drastis. Kemungkinan besar akan butuh waktu lama untuk mengisi ulang pasokan, setidaknya sampai sengketa lisensi antara kedua vendor dengan Nokia menemukan titik terang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan Acer dan Asus akan menyelesaikan masalah rumit ini. Yang pasti, kedua vendor ini diperkirakan tidak akan tinggal diam. Mereka hampir pasti akan mengajukan banding atas putusan pengadilan tersebut, seperti dihimpun dari laporan Gizmochina. Akankah mereka mampu membalikkan keadaan? Ataukah ini awal dari akhir dominasi mereka di pasar Jerman? Kita tunggu saja babak selanjutnya dari drama hukum ini.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id










