Olympic.or.id – Pernah bayangkan generasi alpha dan gen Z rela meninggalkan layar sentuh canggih mereka? Di Amerika Serikat, tren kocak ini benar-benar terjadi! Alih-alih sibuk scrolling TikTok atau Instagram, para pelajar kini berbondong-bondong menggunakan perangkat kuno yang dijuluki Tin Can. Ya, namanya memang seperti kaleng bekas, tapi fungsinya bikin melongo!

Lantas, apa sebenarnya Tin Can itu? Jangan bayangkan smartphone minimalis atau smartwatch kekinian. Perangkat ini sengaja didesain menyerupai telepon rumah jaman bapak-ibuk kita pacaran dulu. Bedanya, ia memiliki papan khusus untuk meletakkan gagang telepon, persis seperti di bilik telepon umum yang hampir punah. Orang tua dan pihak sekolah di AS sampai berbunga-bunga menyambut gadget unik ini. Mengapa? Karena Tin Can secara ajaib mendorong anak-anak menggunakan telepon klasik sekaligus memangkas habis screen time alias waktu bermain gawai. Dengan kata lain, anak-anak tidak bisa buka YouTube, main game online, atau stalk teman di media sosial.
Nah, seberapa heboh popularitasnya? Angka penjualannya langsung melesat bak roket! Startup pengembang gadget nyeleneh ini, Tin Can Untechnologies Inc. , mengklaim sudah berhasil menjual ratusan ribu unit. Hebatnya lagi, pabrikan tidak perlu mengeluarkan biaya iklan besar-besaran. Pasalnya, sebagian besar pembeli datang dari rekomendasi mulut ke mulut yang menyebar cepat seperti api di padang rumput.
Bedanya Jauh dengan Smartphone Mewah!
Tentu saja, Tin Can tidak bisa disamakan dengan smartphone modern yang punya ribuan aplikasi. Para perancang sengaja membatasi fungsinya secara ekstrem. Bagaimana cara kerjanya? Pengguna cukup menyambungkan perangkat ini langsung ke stopkontak dinding, sama seperti memasang setrika atau lampu. Setelah tersambung, si anak langsung bisa menikmati fitur-fitur jadul namun fungsional, seperti speakerphone untuk bicara tanpa mengangkat gagang, speed dial (panggilan cepat) untuk menelepon mama atau papa hanya dengan satu tombol, serta mesin penjawab otomatis yang merekam pesan jika si anak sedang tidak bisa angkat telepon.
Yang lebih keren lagi, perusahaan memberikan layanan panggilan gratis antar sesama perangkat Tin Can. Anak-anak juga tetap bisa menghubungi layanan darurat 911 kapan saja tanpa perlu pulsa. Lalu, bagaimana jika mereka ingin menelepon nomor di luar jaringan? Jangan khawatir, orang tua cukup berlangganan paket sekitar 10 dolar AS (sekitar Rp 172.000) per bulan. Nomor-nomor yang bisa dihubungi pun sudah disetujui orang tua terlebih dahulu. Jadi, tidak ada risiko anak telepon orang asing atau scammer.
Sekolah-sekolah Ikut Geger, Keluarga Berbondong-bondong Daftar
Popularitas Tin Can tidak hanya menyebar di kalangan orang tua galau. Kini, sejumlah sekolah di AS mulai gerak cepat mengadopsi perangkat ini sebagai bagian dari program membatasi smartphone sejak dini. Salah satu pionirnya adalah Nativity Parish School di dekat Kansas City. Menurut laporan, sekitar 95 persen keluarga yang memiliki anak dari taman kanak-kanak hingga kelas lima di sekolah tersebut telah bergabung dalam program keren ini. Bayangkan, hampir seluruh siswa SD di sana sudah beralih ke telepon jadul!
Bagian yang paling unik dan bikin nostalgia, siswa-siswa ini kembali menggunakan direktori kertas untuk mencatat nomor telepon teman-teman mereka. Mereka menulis manual dengan pulpen di buku kecil, persis seperti cara kakek-nenek kita dulu. Tidak ada sinkronisasi kontak otomatis atau pindai kode QR. Benar-benar old school yang menggemaskan!
Selanjutnya, aksi serupa juga dilakukan oleh St. James’ Episcopal School di Los Angeles. Pihak sekolah tidak mau ketinggalan zaman… zaman dulu! Mereka berencana membagikan Tin Can kepada 220 keluarga sebelum libur musim panas tiba. Langkah ini diharapkan bisa menjaga komunikasi antar siswa tanpa perlu bergantung pada grup chat WhatsApp atau Discord yang kerap menimbulkan masalah sosial. Seperti kita tahu, banyak anak merasa tersisihkan karena ada grup eksklusif atau chat yang diabaikan. Dengan telepon suara, semua menjadi lebih sederhana dan manusiawi.
Bos Startup Ungkap Rahasia di Balik Kesuksesan Tin Can
Lantas, siapa dalang di balik gagasan nyeleneh sekaligus brilian ini? Chet Kittleson, sang CEO Tin Can Untechnologies, dengan blak-blakan menyatakan bahwa produknya lahir dari kekhawatiran mendalam terhadap cara anak-anak zaman now berkomunikasi. Menurutnya, terlalu banyak anak yang mahir mengetik emoji tapi gagap saat harus bicara langsung di telepon. Padahal, percakapan suara dapat membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi yang jauh lebih baik. Mereka belajar mendengar intonasi, memahami jeda dalam percakapan, serta berlatih menyusun kalimat secara real-time tanpa tombol kirim.
Seiring merebaknya kekhawatiran orang tua terhadap dampak buruk smartphone, permintaan terhadap Tin Can meningkat tajam bak air bah. Bahkan, perusahaan sempat mengalami gangguan server parah saat lonjakan instalasi terjadi pada Hari Natal. Betapa tidak, banyak orang tua yang memberikan kejutan Tin Can sebagai kado Natal, lalu langsung mengaktifkannya bersama-sama. Server pun jebol karena kebanjiran permintaan!
Sayangnya, bagi pembaca di luar Amerika Utara, kabar ini sedikit mengecewakan. Sampai berita ini ditulis, Tin Can baru tersedia di Amerika Serikat dan Kanada saja. Pihak perusahaan masih belum memberikan kepastian apakah perangkat unik ini akan dirilis di negara lainnya atau tidak. Informasi ini dirangkum dari laporan Times of India yang dikutip oleh Olympic.or.id. Jadi, sementara waktu, kita hanya bisa bermimpi untuk bisa mengobrol menggunakan telepon kaleng anti-ribet ini. Tapi siapa tahu, tren ini segera menyebar ke Indonesia, ya?
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









