Olympic.or.id – Google, baru saja membuat gebrakan spektakuler yang mendadak mengguncang Asia Tenggara. Tanpa ragu, Google resmi mengumumkan komitmen investasi bernilai fantastis mencapai 15 miliar dollar AS (sekitar Rp 271,24 triliun) khusus untuk Malaysia pada Rabu, 4 November 2026.
Melalui pengumuman di situs resminya, manajemen Google merinci bahwa kucuran dana jumbo tersebut bakal mengalir untuk membangun kompleks pusat data (data center) baru di dua wilayah strategis, yakni Selangor dan Negeri Sembilan, beserta berbagai infrastruktur pendukung tercanggih di sekitarnya.
Selain berdiri sebagai fasilitas baru, proyek pembangunan ini nantinya akan melengkapi operasional kompleks data center perdana milik Google di Elmina Business Park, Selangor, yang sejauh ini sudah beroperasi aktif melayani lalu lintas data.
Raksasa Silicon Valley ini mengagendakan proses pembangunan sarana komputasi tingkat tinggi tersebut agar berlangsung sepanjang periode 2027 hingga 2028 mendatang. Langkah agresif ini diambil demi mendongkrak kapasitas komputasi awan mereka di tengah meroketnya permintaan global atas teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Suntikan modal spektakuler ini sekaligus mempertegas komitmen jangka panjang perusahaan asal Mountain View, California tersebut di Negeri Jiran. Pasalnya, investasi ini hadir sebagai modal tambahan setelah sukses mengucurkan dana sebesar 2 miliar dollar AS pada tahun 2024 lalu.
Malaysia Resmi Sabet Gelar Raja Data Center Asia Tenggara!
Tak bisa dimungkiri, Malaysia kini sukses bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan data center paling agresif di kawasan Asia Tenggara. Lembaga intelijen pasar DC Byte bahkan membeberkan fakta bahwa Negeri Jiran tersebut menguasai lebih dari separuh total kapasitas pusat data yang sedang dibangun di Asia Tenggara, mengungguli Indonesia, Thailand, Filipina, hingga Vietnam.
Tentu saja, kehadiran fasilitas megah ini diprediksi bakal langsung memberikan stimulus ekonomi masif bagi Malaysia. Bahkan, selama proses konstruksi berjalan, proyek raksasa ini diperkirakan menyumbang rata-rata 1,1 miliar dollar AS (sekitar Rp 19,89 triliun) setiap tahunnya secara langsung terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Malaysia.
Tidak hanya memompa PDB, aktivitas pembangunan skala besar tersebut diproyeksikan sanggup membuka dan menopang lebih dari 37.000 lapangan kerja lokal yang produktif pada setiap tahun pembangunannya.
Selanjutnya, tatkala seluruh kompleks data center tersebut resmi beroperasi penuh, Google mengestimasi keberadaan fasilitas ini sanggup terus menopang lebih dari 9.000 lapangan kerja lokal berkualitas setiap tahunnya secara konsisten.
Menariknya lagi, Google memastikan bahwa rata-rata upah untuk posisi pekerjaan di kompleks pusat data tersebut bakal 45 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai median gaji nasional di Malaysia.
Tidak berhenti pada urusan lapangan kerja, Google juga menunjukkan kepedulian lingkungan dengan berkomitmen menyuntikkan tambahan daya energi bersih melebihi 1 gigawatt (GW) ke sistem jaringan listrik nasional Malaysia. Hebatnya lagi, pihaknya menegaskan akan membayar penuh seluruh biaya listrik yang digunakan oleh kompleks pusat data mereka.
Bahkan untuk menjamin kelancaran distribusi daya, Google siap menanggung seluruh biaya infrastruktur fisik langsung yang diperlukan guna menghubungkan fasilitas data center raksasa milik mereka ke jaringan listrik utama milik negara.
Dari segi efisiensi daya komputasi, Google menetapkan target ketat agar fasilitas mereka meraih nilai Power Usage Effectiveness (PUE) di kisaran 1,12 hingga 1,14. Sebagai catatan pakar, PUE merupakan metrik teknis internasional untuk mengukur seberapa efisien pusat data menggunakan daya listrik; semakin mendekati angka ideal 1,0, maka semakin hemat penggunaan energi di luar perangkat komputasi utama.
Di samping pasokan listrik, Google juga secara proaktif berupaya memperkuat ketahanan pasokan air bagi masyarakat lokal di sekitar proyek. Langkah ini sangat krusial mengingat kompleks data center membutuhkan volume air yang tinggi untuk mendinginkan server komputasi yang menghasilkan panas ekstrem saat beroperasi nonstop.
Guna melengkapi paket investasinya, Google merancang empat program baru untuk meningkatkan keterampilan digital warga Malaysia. Lewat inisiatif ini, Google menargetkan mampu mencetak 800.000 SDM cakap digital dalam kurun lima tahun ke depan, sebagaimana dihimpun dari laporan wartawan AFP.
Lalu Gimana Nasib Indonesia? Tenang, Google Sudah Tanam Modal Jumbo Lebih Dulu!
Melihat kucuran dana jumbo ke negara tetangga, publik Tanah Air mungkin bertanya-tanya. Namun tenang saja, Google sebenarnya sudah lebih dulu membangun fondasi infrastruktur komputasi awan mereka di Indonesia melalui jaringan Google Cloud.
Apabila menengok rekam jejaknya, Google secara resmi membuka Google Cloud Region Jakarta pada 24 Juni 2020 lalu. Peluncuran strategis ini menandai berdirinya wilayah cloud pertama Google di Indonesia, sekaligus menjadi region kesembilan yang mereka resmikan di kawasan Asia Pasifik (APAC) saat itu.
Kehadiran Cloud Region Jakarta ini memberikan keuntungan luar biasa bagi perusahaan dalam negeri untuk mengakses layanan cloud dengan latensi jauh lebih rendah. Pasalnya, seluruh data dapat diproses langsung lewat data center lokal di Indonesia tanpa harus memutar server ke negara lain terlebih dahulu.
Alhasil, pemrosesan data secara domestik ini terbukti sukses mempercepat kecepatan akses dan daya tanggap berbagai aplikasi berbasis cloud, terutama untuk sistem digital yang membutuhkan pemrosesan data secara real-time dan presisi tinggi.
Genap lima tahun berjalan setelah peresmian awal tersebut, Google Cloud kemudian membuat keputusan besar dengan memperluas kapasitas komputasi di Jakarta Cloud Region pada bulan Mei 2025 lalu. Perluasan kapasitas ini sengaja dilakukan demi menyediakan ruang komputasi masif bagi organisasi di Indonesia yang mulai gencar memanfaatkan solusi kecerdasan buatan (AI) berbasis awan.
Meskipun begitu, alih-alih membeberkan angka pasti seperti di Malaysia, pihak Google memang tidak pernah merinci nilai spesifik investasi tunai yang telah mereka kucurkan untuk membangun jaringan data center di Indonesia.
Kendati demikian, Google berani mengeklaim bahwa fasilitas Jakarta Cloud Region telah memberikan kontribusi ekonomi fantastis senilai Rp 900 triliun bagi perekonomian Indonesia selama lima tahun pertama operasionalnya, serta berhasil mendukung rata-rata hampir 92.000 lapangan kerja lokal setiap tahunnya.
Bahkan untuk periode lima tahun berikutnya, Google memproyeksikan fasilitas komputasi awan Jakarta ini akan sanggup menggenjot nilai kontribusi ekonomi hingga menembus angka Rp 1.400 triliun bagi Indonesia, sekaligus menyerap rata-rata hingga mendekati 240.000 tenaga kerja lokal di berbagai sektor setiap tahunnya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









