Olympic.or.id – Kabar mengejutkan datang dari Timur Tengah. Iran dikabarkan secara resmi berpaling dari GPS milik Amerika Serikat. Sebagai gantinya, negara para Mullah itu kini mengadopsi sistem navigasi satelit buatan China, yaitu BeiDou Navigation Satellite System. Langkah ini bukan sekadar ganti merek, melainkan sebuah pernyataan geopolitik yang cukup keras.

Tentu kita tahu, di langit kita saat ini tidak cuma ada GPS dan BeiDou. Masih ada dua pemain besar lainnya, yakni GLONASS punya Rusia dan Galileo yang dikembangkan oleh Uni Eropa. Namun, keputusan Iran memilih China sebagai mitra strategis baru ini jelas memiliki arti tersendiri di tengah ketegangan global yang memanas.
Kabar mengejutkan ini pertama kali dihembuskan oleh media analisis geopolitik, National Herald. Mereka mengungkap bahwa Iran benar-benar sudah mulai meninggalkan ketergantungan lamanya pada teknologi Barat.
Gangguan Sinyal Memicu Pergeseran Strategi
Sebenarnya, isu ini sudah berembus sejak pertengahan 2025 lalu. Saat itu, hubungan Iran-Israel sedang memanas dan konflik militer mengintai. Di tengah situasi genting itulah, pejabat Kementerian Komunikasi Iran angkat bicara. Mereka secara terang-terangan mengonfirmasi sedang menjajaki opsi alternatif selain GPS, dan nama BeiDou muncul sebagai kandidat terkuat.
“Republik Islam dengan serius berencana mengejar berbagai opsi alternatif, termasuk sistem BeiDou milik China,” ujar Ehsan Chitsaz, Wakil Menteri Komunikasi Iran, kepada surat kabar lokal Ham-Mihan. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa teknologi China ini bahkan menjadi salah satu poin utama dalam perjanjian kerja sama jangka panjang yang tengah dirundingkan antara Teheran dan Beijing. Jadi, ini bukan hubungan biasa, melainkan sudah masuk ke dalam ranah kesepakatan strategis antarnegara.
Lantas, apa yang mendorong Iran mengambil keputusan radikal ini? Situs berita Iran International melaporkan bahwa gangguan sinyal GPS dan masalah keamanan siber menjadi pemicu utamanya. Iran merasa tidak nyaman dan tidak aman terus-terusan bergantung pada teknologi yang dikuasai oleh musuh potensialnya.
Alasan paling mendasar tentu saja karena GPS sepenuhnya berada di bawah komando militer Amerika Serikat. Secara teori, dalam situasi konflik terbuka, akses Iran terhadap sinyal navigasi tersebut bisa diputus atau dikacaukan oleh AS kapan saja. Ketergantungan ini ibarat pisau bermata dua yang sangat berbahaya bagi keamanan nasional Iran.
Akibatnya, Teheran pun bergerak cepat. Beberapa laporan dari kalangan analis pertahanan menyebutkan bahwa Iran saat ini sudah mulai mengintegrasikan sistem BeiDou-3 ke dalam berbagai perangkat militernya. Drone dan rudal menjadi dua sektor utama yang pertama kali merasakan teknologi anyar dari China ini. Langkah ini mereka ambil untuk secara perlahan tapi pasti mengurangi ketergantungan pada GPS buatan AS.
Integrasi teknologi ini diyakini mampu meningkatkan daya tahan militer Iran. BeiDou kabarnya memiliki fitur anti-jamming yang andal dan sinyal militer terenkripsi yang sulit ditembus musuh. Dengan begitu, Iran berharap perangkat perangnya tidak akan mudah lumpuh di medan tempur akibat serangan elektronik.
Memang, dalam beberapa tahun terakhir, warga dan militer Iran kerap merasakan gangguan navigasi. Wilayah Teluk dan sejumlah area yang terdampak ketegangan militer di Timur Tengah sering menjadi titik terparah gangguan sinyal GPS, seperti dikutip dari National Herald. Gangguan ini sudah menjadi pemandangan biasa.
Meskipun drone dan rudal militer modern biasanya menggunakan sinyal GPS terenkripsi khusus militer, namun tidak semuanya. Beberapa drone pengintai serta bom atau rudal berpemandu tertentu ternyata masih mengandalkan sinyal GPS publik yang tidak terenkripsi. Akibatnya, perangkat-perangkat ini menjadi rentan terhadap gangguan atau pembajakan sinyal.
Dampak gangguan ini bahkan dirasakan langsung oleh warga sipil Iran. Aplikasi navigasi lokal seperti Balad dan Neshan, hingga aplikasi internasional seperti Waze, sering menunjukkan peta yang kacau. Pengguna tiba-tiba bisa “terlempar” secara virtual ke Eropa, Kanada, atau bahkan Afrika hanya karena sinyal GPS sedang di-jamming. Tentu ini pengalaman yang menjengkelkan dan membahayakan.
Oleh karena itu, dengan beralih ke BeiDou, Iran berharap bisa bernapas lega. Mereka menginginkan sistem navigasi yang lebih independen dan tidak terikat pada belenggu teknologi yang dikuasai negara-negara Barat.
Keunggulan BeiDou yang Membuat Iran Beralih
Lalu, sehebat apa sih sebenarnya sistem BeiDou buatan China ini? Saat ini, China mengoperasikan BeiDou dengan jaringan lebih dari 40 satelit yang setia mengorbit Bumi. Sistem ini secara resmi sudah beroperasi untuk skala global sejak tahun 2020. Jadi, teknologinya sudah matang dan teruji.
Kemampuan BeiDou kurang lebih setara dengan GPS. Ia bisa menentukan posisi, membantu navigasi, dan men-sinkronisasi waktu dengan sangat baik. Namun, China tidak berhenti di situ. Mereka menawarkan fitur unggulan berupa sinyal dengan akurasi tinggi dan layanan komunikasi pesan singkat melalui satelit—sesuatu yang tidak dimiliki GPS biasa.
Untuk penggunaan sipil, akurasi BeiDou berada di kisaran beberapa meter. Namun, jika Anda butuh presisi ekstrem, layanan khususnya bisa mencapai akurasi hingga level sentimeter dengan bantuan stasiun darat tambahan. Bayangkan, ketepatan seteliti ini sangat krusial untuk navigasi transportasi, logistik, hingga keperluan militer seperti mengarahkan drone atau rudal presisi.
Keputusan Iran memilih BeiDou tidak bisa dilepaskan dari persaingan teknologi global yang semakin sengit. Banyak negara mulai sadar dan mencari alternatif dari infrastruktur digital yang selama ini didominasi Amerika Serikat. Mereka ingin punya opsi agar tidak terjebak dalam ketergantungan tunggal.
China sendiri, dalam beberapa tahun terakhir, sangat agresif mempromosikan BeiDou ke negara-negara sahabatnya. Kawasan Asia, Afrika, dan Timur Tengah menjadi pasar utama ekspansi teknologi navigasi ini. Iran hanyalah salah satu contoh nyata dari pergeseran peta kekuatan teknologi global yang sedang terjadi di depan mata kita.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









