Olympic.or.id – Meta baru saja meluncurkan sistem kecerdasan buatan generasi terbaru yang diberi nama Brain2Qwerty v2, dan kabar baiknya, teknologi ini mampu membaca aktivitas otak dengan tingkat akurasi yang jauh lebih tinggi dibanding pendahulunya. Sungguh menakjubkan, bukan? Pasalnya, AI ini dapat memprediksi huruf yang ingin diketik seseorang hanya dengan menganalisis sinyal otak, tanpa perlu implan atau alat khusus yang dipasang di kepala. Dengan kata lain, ini adalah gebrakan besar di dunia teknologi non-invasif!
Sebagai informasi, pendahulunya, Brain2Qwerty v1, telah diperkenalkan ke publik pada Februari lalu. Namun, kini sang suksesor hadir dengan peningkatan performa yang sangat signifikan. Menurut klaim Meta, Brain2Qwerty v2 mampu menerjemahkan aktivitas otak menjadi teks dengan akurasi tembus hingga 78 persen. Angka ini jauh melampaui generasi sebelumnya yang hanya sekitar 48 persen. Wah, peningkatan yang luar biasa, bukan?
Yang lebih menarik lagi, teknologi canggih ini dikembangkan dengan tujuan mulia, yakni membantu pasien yang kehilangan kemampuan berbicara akibat gangguan saraf berat, seperti amyotrophic lateral sclerosis (ALS), locked-in syndrome, atau cedera otak. Dengan demikian, AI ini benar-benar menjadi secercah harapan bagi mereka yang selama ini terisolasi dari komunikasi verbal.
Salah satu keunggulan utama Brain2Qwerty v2 adalah sifatnya yang non-invasif. Artinya, sistem ini tidak memerlukan prosedur pembedahan sama sekali. Cukup dengan helm pemindai otak yang mampu menangkap aktivitas neuron dari luar kepala, para pengguna dapat memanfaatkan teknologi ini dengan aman dan nyaman. Hal ini tentu sangat kontras dengan teknologi antarmuka otak-komputer seperti Neuralink milik Elon Musk yang mewajibkan pemasangan chip melalui operasi. Jadi, mana yang lebih Anda minati?
Untuk mengembangkan Brain2Qwerty v2, Meta tidak bekerja sendirian. Perusahaan raksasa ini menggandeng Basque Center on Cognition, Brain, and Language yang berlokasi di San Sebastian, Spanyol. Kolaborasi ini melibatkan sembilan relawan sehat berusia 25 hingga 56 tahun. Bayangkan, selama sekitar 10 jam, setiap relawan diminta mengetik lebih dari 2.500 kalimat sambil mengenakan perangkat magnetoencephalography (MEG). Totalnya, ada sekitar 22.000 kalimat beserta data aktivitas otak yang berhasil dikumpulkan. Data inilah yang kemudian digunakan untuk melatih model AI. Luar biasa, bukan?
AKURASI 78 PERSEN, SANGAT MENJANJIKAN!
Dari hasil pelatihan tersebut, Meta mengklaim bahwa Brain2Qwerty v2 membawa peningkatan akurasi yang sangat drastis. Pada peserta dengan hasil terbaik, AI ini mampu mencapai word accuracy atau ketepatan kata hingga 78 persen. Artinya, lebih dari separuh kalimat yang diterjemahkan dari aktivitas otak hanya memiliki maksimal satu kesalahan kata. Sementara secara rata-rata, Brain2Qwerty v2 mencatat akurasi sekitar 61 persen. Angka ini terbilang fantastis jika dibandingkan dengan metode pembacaan aktivitas otak non-invasif lain yang rata-rata hanya mencapai sekitar 8 persen. Jadi, bisa dibilang Meta benar-benar unggul dalam hal ini!
Meta juga menemukan fakta menarik bahwa akurasi AI terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah data pelatihan. Temuan ini mengindikasikan bahwa performa sistem masih bisa ditingkatkan tanpa harus mengubah pendekatan tanpa operasi yang digunakan. Sungguh menjanjikan, bukan?
DIDUKUNG TEKNOLOGI SERUPA CHATGPT
Kabar menggembirakan lainnya, Brain2Qwerty v2 kini juga diperkuat oleh large language model (LLM), teknologi yang sama yang menjadi dasar chatbot populer seperti ChatGPT dan Meta Llama. Berbeda dari versi pertama yang masih mengandalkan aturan buatan peneliti untuk mengenali sinyal tertentu di otak, Brain2Qwerty v2 menggunakan end-to-end deep learning. Dengan pendekatan ini, AI langsung mempelajari pola dari sinyal otak mentah, lalu menerjemahkannya menjadi karakter, menyusun karakter menjadi kata, dan kemudian menggunakan LLM untuk membentuk kalimat yang utuh. LLM juga sangat membantu dalam menebak kata yang hilang atau kurang jelas dengan memanfaatkan konteks tata bahasa dan makna kalimat, mirip seperti fitur autocorrect pada keyboard ponsel kita. Keren, kan?
Meta menyebut bahwa ini merupakan salah satu implementasi pertama LLM untuk menerjemahkan aktivitas otak non-invasif menjadi kalimat yang dapat dipahami manusia. Ini adalah langkah besar yang patut diapresiasi.
MASIH TAHAP RISET, TAPI PENUH HARAPAN
Meski hasilnya sangat menjanjikan, Brain2Qwerty v2 masih berada pada tahap riset dan belum siap digunakan secara klinis. Pengujian baru dilakukan terhadap sembilan orang sehat, sehingga masih diperlukan penelitian lanjutan sebelum teknologi ini dapat diterapkan kepada pasien secara luas. Namun, langkah Meta ini sudah sangat baik karena mereka merilis kode sumber Brain2Qwerty v1 dan v2 secara terbuka agar peneliti lain dapat mengembangkan teknologi serupa. Ini adalah bentuk transparansi dan kolaborasi yang patut dicontoh.
Menurut Meta, tujuan akhir dari pengembangan ini adalah menghadirkan teknologi yang memungkinkan pasien kehilangan kemampuan berbicara dapat kembali berkomunikasi hanya melalui aktivitas otak, tanpa harus menjalani operasi pemasangan implan. Sebuah visi yang sangat mulia, bukan?
Dengan semua pencapaian ini, kita bisa berharap bahwa masa depan komunikasi non-verbal akan semakin cerah. Brain2Qwerty v2 mungkin baru permulaan, tetapi dampaknya bisa sangat besar bagi kehidupan banyak orang. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.










