Olympic.or.id – Sebuah terobosan gila-gilaan baru saja terjadi di dunia gaming! Melalui kanal YouTube-nya, seorang kreator asal China bernama Xiao Ningzi dengan percaya diri memamerkan konsol ajaib karyanya. Hebatnya, mesin ini bukan produk anyar pabrikan, melainkan sebuah “Frankenstein” digital yang berhasil menggabungkan tiga raksasa industri: PlayStation 5 (PS5), Xbox, dan Nintendo Switch 2, menjadi SATU tubuh! Eksperimen luar biasa ini ia beri nama keren “Ningtendo PXBOX 5”.

Di video yang ia unggah pada November 2025 lalu, ia menjelaskan dengan gamblang motivasi di balik proyek ekstrem ini. Menurutnya, PS5, Xbox, dan Switch 2 memang mendominasi pasar, namun sayangnya, mereka terkurung dalam tembok eksklusivitas ekosistem masing-masing. Alhasil, sebagai gamer sejati, mau tak mau kamu harus merogoh kocek berkali-kali untuk memiliki semua konsol jika ingin menikmati setiap game populer. Dari sinilah, ide gila untuk menyatukan mereka dalam satu perangkat, lengkap dengan satu tombol sakti untuk berpindah-pindah, akhirnya terwujud. Xiao Ningzi bahkan menyebut ciptaannya ini sebagai simbol perdamaian untuk mengakhiri perang konsol selamanya!
Namun, jangan bayangkan menggabungkan tiga konsol sekaligus itu mudah. Faktanya, tantangan utamanya justru datang dari ukuran dan masalah panas. Bayangkan saja, jika ketiganya disatukan secara utuh, beratnya bisa mencap**ai 10 kilogram dengan volume 19 liter—sangat jauh dari kata praktis! Oleh karena itu, Xiao Ningzi memutuskan untuk membongkar semua konsol tersebut sampai ke bagian terdalamnya. Setelah membongkar, ia menemukan fakta mengejutkan: papan utama (motherboard) ketiga konsol ternyata berukuran relatif kecil dan memungkinkan untuk digabung. Namun, masalah terbesar justru bersembunyi pada power supply dan sistem pendingin yang memakan ruang sangat besar. Hal ini sebenarnya wajar, mengingat sistem pendingin memiliki tugas kritis untuk menjaga suhu tetap stabil saat konsol menjalankan game-game berat.
Inspirasi dari “Tong Sampah” Apple dan Kreasi Pendingin Revolusioner
Untuk mengatasi dua masalah besar ini, Xiao Ningzi kemudian mencari solusi cerdas. Ia punya ide brilian: mengapa tidak membuat ketiga konsol ini berbagi satu sistem daya dan satu sistem pendingin saja? Gagasan ini akhirnya membawanya pada sebuah inspirasi tak terduga dari dunia komputer: desain legendaris Apple Mac Pro generasi 2013 yang dijuluki “tong sampah”! Ternyata, Mac Pro tersebut menggunakan sistem pendingin berbentuk prisma segitiga yang sangat efisien, dengan tiga sisi yang masing-masing menempel pada sumber panas dan satu kipas besar di atasnya. Dengan demikian, desain ini dianggap ideal untuk mendinginkan tiga motherboard sekaligus milik PS5, Xbox, dan Switch 2. Berangkat dari konsep ini, Xiao Ningzi mulai mengeksekusi.
Demi mewujudkannya, ia membuat sistem pendingin dengan teknik cor logam sederhana. Pertama-tama, ia membuat cetakan plastik menggunakan printer 3D, lalu menuangkan aluminium cair ke dalamnya untuk membentuk blok pendingin utamanya. Selanjutnya, untuk memastikan penyebaran panas yang merata, ia menambahkan pelat pengunci dari tembaga murni di atas blok aluminium tersebut. Tak lupa, sebuah kipas berukuran 12 cm ia pasang di bagian bawah agar udara panas bisa terus ditiup keluar. Hasilnya? Saat diuji coba dengan game Elden Ring di versi PS5 selama 30 menit, suhu permukaan pendingin tercatat stabil di angka 60 derajat Celsius tanpa tanda-tanda overheat sama sekali!
Setelah pendinginan beres, kini giliran sistem daya yang disederhanakan. Awalnya, Xiao berencana memakai saklar kompleks, tetapi setelah menghitung, ia sadar bahwa PS5 dan Xbox hanya mengonsumsi sekitar 4 watt saat siaga. Akhirnya, dengan percaya diri ia memutuskan untuk menggunakan satu power supply PC 250 watt berteknologi canggih gallium nitride (GaN) untuk menyalurkan daya ke seluruh sistem, dengan satu catatan penting: hanya satu konsol yang boleh aktif dalam satu waktu.
Pada prosesnya, motherboard PS5 dan Xbox ia hubungkan secara paralel menggunakan arus 12V DC. Sementara itu, untuk Switch 2 yang bersifat handheld, dayanya dialirkan melalui konverter USB-C Power Delivery (PD). Uniknya, dock untuk Switch 2 ia buat terpisah dan bisa dilepas-pasang. Xiao Ningzi bahkan merancang mekanisme unik seperti pemanggang roti, di mana Switch 2 bisa “meloncat” keluar saat tombol ditekan. Mekanisme keren ini tidak menggunakan pegas logam, lho, melainkan pegas plastik hasil cetak 3D dari bahan PETG yang dirancang khusus agar kuat dan fleksibel.
Lalu, bagaimana cara berpindah antar konsolnya? Semua diatur dengan pintar oleh papan elektronik Arduino! Papan mungil ini mengendalikan perpindahan sinyal HDMI, mengatur aliran daya, serta mengubah warna lampu indikator sesuai konsol yang aktif: biru untuk PS5, hijau untuk Xbox, dan merah untuk Switch 2. Hasil akhirnya pun luar biasa: sebuah perangkat berbentuk prisma segitiga elegan yang dibalut panel dekoratif dari kayu walnut hitam hasil potongan laser, dan dilengkapi pelat nama logam berinskripsi “Ningtendo PXBOX 5”.
Bukti Nyata: Semua Game Berjalan Mulus!
Bagaimana performanya saat diuji? Tentu saja, semuanya berjalan mulus! Xiao Ningzi membuktikannya dengan memainkan game eksklusif Switch 2 Donkey Kong Bananza, lalu beralih ke Ghost of Tsushima di PS5, dan terakhir Starfield di Xbox—semua game berjalan lancar tanpa kendala. Perlu dicatat, semua game yang diuji adalah versi digital karena konsil hybrid ini sengaja tidak dilengkapi dengan slot disc drive.
Meski hasilnya memukau, Xiao Ningzi dengan rendah hati mengakui bahwa proyek ini jauh lebih sulit dari perkiraan dan awalnya hampir seperti lelucon belaka. Pada akhirnya, “Ningtendo PXBOX 5” harus dipahami sebagai sebuah eksperimen teknis murni yang membutuhkan keahlian tingkat tinggi dalam pembongkaran dan perakitan, bukan sebagai produk komersial. Namun, eksperimen ini telah membuktikan satu hal: menyatukan tiga ekosistem gaming berbeda dalam satu perangkat bukanlah hal mustahil!
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id









