Olympic.or.id – Proyek kabel bawah laut terpanjang di dunia yang membentang lebih dari 45.000 kilometer kini terancam macet di tengah laut. Bukan karena masalah teknis, melainkan karena panasnya konflik Iran versus Amerika Serikat yang sedang memanas di kawasan Timur Tengah.
Meta, perusahaan raksasa di balik WhatsApp, Instagram, Facebook, dan Threads, terpaksa mengerem laju pembangunan proyek ambisius bernama 2Africa. Bloomberg pertama kali membongkar kabar ini dan langsung mengundang perhatian publik. Bayangkan, proyek sebesar ini harus berhadapan dengan situasi geopolitik yang kian tidak menentu.
Timur Tengah memang sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan antara Iran dan AS menciptakan efek domino ke berbagai sektor, dan kini giliran infrastruktur digital yang jadi korban. Meta bersama konsorsium perusahaan telekomunikasi global lainnya memimpin proyek 2Africa dengan tujuan mulia: menghubungkan 33 negara di Afrika, Eropa, dan Asia. Lebih dari 3 miliar orang bakal merasakan lonjakan kapasitas internet jika proyek ini rampung sesuai rencana.
Kapasitasnya gila-gilaan. Dengan 16 pasang serat optik, 2Africa sanggup mengalirkan data hingga 180 terabit per detik. Coba bayangkan, kekuatan sebesar itu cukup untuk menayangkan lebih dari 36 juta film HD secara bersamaan. Kalau kamu penggemar berat film, secara teori kamu bisa mengunduh sekitar 15.000 film panjang dalam waktu cuma satu detik! Luar biasa, kan?
Yang lebih keren lagi, 2Africa menjadi kabel bawah laut pertama yang sukses menyatukan Afrika bagian timur dan barat dalam satu sistem berkelanjutan. Kabel ini juga jadi jembatan digital yang menghubungkan benua Afrika dengan Timur Tengah, Asia Selatan, dan Eropa. Sayangnya, rencana besar ini kini harus berhadapan dengan realitas pahit di lapangan.
Proyek Hampir Rampung, tapi…
Sebenarnya, Meta sudah mengumumkan bahwa sistem inti kabel laut 2Africa tuntas pada akhir 2025. Namun, pekerjaan lanjutan dan berbagai aktivitas terkait proyek di kawasan Timur Tengah kini terhambat konflik yang masih berkecamuk. Akibatnya, sebagian pengerjaan terpaksa ditunda hingga situasi keamanan membaik.
Perusahaan teknologi ini jelas tidak mau mengambil risiko. Apalagi, jalur yang dilalui kabel 2Africa melewati titik-titik panas seperti Laut Merah dan Selat Hormuz. Kedua wilayah ini kini menjadi pusaran konflik yang sulit diprediksi. Akibatnya, para pekerja dan kapal-kapal khusus yang menggelar kabel tidak bisa beroperasi dengan leluasa.
Ancaman Nyata bagi Internet Global
Konflik di Timur Tengah ternyata tidak cuma mengganggu jalur perdagangan minyak dan gas. Infrastruktur internet global pun mulai goyang. Kabel bawah laut adalah urat nadi komunikasi dunia, karena hampir seluruh lalu lintas data internasional melewatinya.
Di Laut Merah saja, terdapat sekitar 17 kabel bawah laut yang mengangkut data antara Eropa, Asia, dan Afrika. Jika jalur-jalur ini terganggu, dampaknya bakal terasa di seluruh dunia. Koneksi internet antarwilayah bisa melambat drastis, latensi meningkat, dan layanan digital seperti cloud, streaming, hingga transaksi keuangan bisa mengalami gangguan parah.
Perbaikan kabel bawah laut juga bukan perkara mudah. Kapal khusus harus dikerahkan untuk mengangkat kabel dari dasar laut dan menyambungkannya kembali. Jika wilayah konflik tidak aman, proses perbaikan bisa tertunda berbulan-bulan. Ini berarti gangguan internet bisa berlangsung lama dan merugikan banyak pihak.
Perusahaan Teknologi Lain Jadi Korban
Meta bukan satu-satunya yang terkena imbas. Amazon Web Services (AWS) juga dilaporkan menghentikan sebagian operasionalnya setelah dua pusat data di Uni Emirat Arab terkena serangan drone. Satu fasilitas lain di Bahrain pun mengalami kerusakan akibat ledakan di sekitarnya. Informasi ini dihimpun dari laporan Bloomberg yang detail.
Situasi keamanan yang kacau membuat banyak perusahaan teknologi asal Amerika Serikat mengurangi aktivitas di kawasan Teluk. Mereka terpaksa menutup kantor sementara dan membatasi perjalanan dinas karyawan. Keputusan ini diambil demi keselamatan, meskipun berdampak pada operasional bisnis.
Masa Depan Konektivitas di Ujung Tanduk
Proyek 2Africa sejatinya dirancang untuk membawa perubahan besar. Dengan panjang lebih dari 45.000 kilometer, kabel ini bakal menjadi tulang punggung konektivitas masa depan. Meta dan konsorsiumnya ingin memastikan bahwa miliaran orang di negara berkembang mendapatkan akses internet cepat dan stabil.
Namun, ambisi besar itu kini terganjal realitas politik. Ketegangan Iran-AS menciptakan ketidakpastian yang sulit diatasi. Para ahli khawatir jika konflik berkepanjangan, pembangunan infrastruktur digital di kawasan strategis akan terhambat. Akibatnya, kesenjangan digital antara negara maju dan berkembang bisa semakin lebar.
Jangan lupa, kabel bawah laut bukan cuma soal kecepatan internet. Ini menyangkut ekonomi digital, pendidikan jarak jauh, telemedicine, hingga hiburan. Jika proyek seperti 2Africa tertunda, masyarakat di Afrika dan Asia Selatan yang paling dirugikan. Mereka harus menunggu lebih lama untuk menikmati konektivitas setara dengan negara maju.
Jalan Terjal Menuju Konektivitas Global
Timur Tengah memang selalu menjadi kawasan rawan konflik. Namun, kali ini dampaknya merembet ke ranah digital yang sebelumnya dianggap aman. Kabel bawah laut yang membentang di dasar laut ternyata tidak kebal dari gejolak politik di permukaan.
Perusahaan seperti Meta dan AWS kini dihadapkan pada dilema besar. Di satu sisi, mereka ingin melanjutkan ekspansi dan memperkuat infrastruktur global. Di sisi lain, keselamatan karyawan dan aset perusahaan harus diutamakan. Menunda proyek mungkin jadi pilihan paling bijak, meskipun merugikan secara bisnis.
Situasi ini mengingatkan kita bahwa internet global sesungguhnya rapuh. Ketergantungan pada jalur-jalur sempit seperti Laut Merah dan Selat Hormuz menciptakan titik rawan yang bisa dimanfaatkan atau terganggu oleh konflik. Ke depan, mungkin perlu ada diversifikasi jalur kabel agar risiko seperti ini bisa diminimalkan.
Harapan di Tengah Ketidakpastian
Meskipun proyek 2Africa tersendat, Meta dan konsorsiumnya belum menyerah. Mereka terus memantau situasi dan siap melanjutkan pembangunan jika kondisi memungkinkan. Sistem inti yang sudah selesai setidaknya bisa beroperasi, meskipun belum optimal.
Kita semua berharap konflik di Timur Tengah segera mereda. Bukan cuma demi kelancaran proyek kabel laut, tapi juga demi kemanusiaan. Perang dan ketegangan politik hanya membawa kerugian bagi semua pihak, termasuk masa depan konektivitas global.
Jadi, lain kali saat kamu streaming film atau video call dengan teman di luar negeri, ingatlah bahwa di balik layar ada ribuan kilometer kabel bawah laut yang berjuang menghadirkan koneksi. Dan sayangnya, perjuangan itu kini terhambat oleh panasnya politik Timur Tengah. Semoga situasi cepat membaik, agar internet global kembali lancar tanpa hambatan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.









